<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-21550226</id><updated>2011-04-21T21:19:50.058+02:00</updated><title type='text'>Hasan Hudaibi</title><subtitle type='html'>Saya pengagum Asro Kamal Rokan, seorang kolumnis di Republika. Tulisannya di rubrik Resonansi, banyak memberikan inspirasi dan kekuatan luarbiasa. Saya juga menyukai tulisan-tulisan Anis Matta, Hernowo, Jack Canfield &amp; Mark Victor Hansen (Terutama serial Chicken Soup For The Soul-nya),
Sindhunata dan Muhammad Nursani, banyak pelajaran berharga di sana. Mereka bukan hanya mahir menulis denga pena, tapi juga piawai menulis dengan hati.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://hasanhudaibi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21550226/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanhudaibi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>hasanhudaibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09684569372641364160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://i37.photobucket.com/albums/e60/hudaibi/Ardiansyah2.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>8</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21550226.post-114457241755028447</id><published>2006-04-09T10:44:00.000+02:00</published><updated>2006-07-11T15:57:01.150+03:00</updated><title type='text'>Menyulam Kabut</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/7775/2180/1600/H02C0088.jpg"&gt;&lt;strong&gt;&lt;img style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/7775/2180/200/H02C0088.jpg" border="0" /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Ada yang sulit diungkapkan&lt;br /&gt;Meski hanya pada angin, gunung dan laut&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sesak menghimpit menahan gejolak &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;yang membuncah&lt;br /&gt;Bergemuruh.. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;menyeruak keluar memberontak&lt;br /&gt;Ia terlalu liar untuk dikurung dan diasingkan&lt;br /&gt;Nalurinya lahir dari komunitas lepas &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;yang bebas berteriak&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;Jadi biarkan saja ia mengalir dan berlari menuju sungai&lt;br /&gt;Mengurai tambatan biduk dan pergi berlayar&lt;br /&gt;Dengan begitu ia dapat terbang dengan sepasang kuda bersayap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada cahaya datang menyelinap&lt;br /&gt;Menyapu gelap kabut yang masih bergayut&lt;br /&gt;Ada kisah haru di tepian kolam tua itu&lt;br /&gt;Ada lara yang menyendiri di sana&lt;br /&gt;Tapi biar saja..&lt;br /&gt;Tambalan sarang laba-laba itu hampir sempurna&lt;br /&gt;Biarkan ia mengukir gelap&lt;br /&gt;di atas daun-daun randu yang mulai kering&lt;br /&gt;lalu membakarnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemurnian tak dapat disulap jadi&lt;br /&gt;Aslinya tak dapat disepuh&lt;br /&gt;Biarkan keruhnya surut&lt;br /&gt;Lalu berlari ke bukit dan menyulam iringan kabut&lt;br /&gt;Jarak membentang lautan akan menjelaskan semuanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isyaaq Syahid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;WANITA BAJA

	Helen  adalah isteri salah seorang pemuda Kahfi; Maxmilianous. Sejak gadis kecil ia telah tumbuh cerdas, kuat dan cekatan. Kedudukan ibunya sebagai permaisuri raja Philadelpia; Dixianous telah mengantarkannya kepada kedudukan terhormat, namun itu tidak membuatnya angkuh dan tinggi hati. Ia tetap ramah dan rendah hati. Di samping kekayaan dan kemegahan istana, Helen juga memiliki kepribadian dan paras yang menawan, hingga tak heran kalau banyak panglima istana yang berharap bisa mempersuntingnya, walaupun pada akhirnya Helen dapat dipersunting oleh Maxmilianous. Sejak kecil Helen telah banyak belajar dari ibunya, terutama ketegaran. Tegar, Helen kecil benar-benar melakukannya. Dia menyaksikan sendiri bagaimana ibundanya dibakar hidup-hidup karena bersikeras teguh kepada ajaran agamanya. Kehidupan istana yang penuh kemusyrikan tak membuatnya tunduk dan surut. Keyakinannya tak luntur. Keteguhannya justru membaja di tengah angkara. Bahkan saat dia harus rela kehilangan suami tercinta.

	Sumayyah, syahidah pertama dalam Islam. Lebih memilih disiksa bersama suaminya Yasir ketimbang harus meninggalkan keyakinannya. Bersama para budak kota Mekkah, keluarga Sumayyah diseret oleh Abu Jahal ke ladang pembantaian. Satu persatu mereka disiksa dan dipaksa meninggalkan ajaran Nabi Muhammad SAW. Tak tergambarkan siksaan yang mereka terima waktu itu, hingga Rasulullah sendiri yang kebetulan lewat dan menyaksikan peristiwa tersebut tak mampu melukiskannya. Hanya doa yang sempat Rasulullah sampaikan sebagai penguat keteguhan mereka  Sabarlah wahai keluarga Yasir! Sesungguhnya tempat yang sudah dijanjikan Allah bagi kalian adalah surga .

	Gambaran kehidupan Ummu Mabad juga memberikan keteladanan yang mengagumkan. Betapa kehidupan padang pasir yang sangat jauh dari kecukupan dan kemewahan tak membuatnya goyah dan lemah untuk berbuat baik. Ia tetap sabar dan tekun duduk di serambi tendanya, memberi makan dan minum kepada para musafir yang lewat. Ia tak pernah merasa bosan berbuat baik.

	Begitu pula Khonsa, Shahabiyah yang hidup hingga masa kekhalifahan Umar ini juga mampu tegar membaja walau keempat putranya syahid pada perang Qadisiyyah. Beliau tidak kecewa dan bersedih, apalagi meratapi nasib. Ia justru menyesal, karena hanya bisa menyumbangkan empat putranya. Padahal ia sangat berharap punya banyak anak dan dapat mengantarkan mereka semua ke medan jihad sebagai syuhada. Subhânallâu. Ternyata Islam tidak hanya membentuk Rijâlul Ummah tapi juga melahirkan Niswatun Mujâhidah. Wanita-wanita kokoh dan tegar. Wanita-wanita yang tak lemah dalam himpitan dan tak goyah dalam ujian. Tekanan justru membuat mereka semakin kuat dan tegar. Himpitan justru membuat mereka semakin matang. Nama-nama mereka senantiasa harum, menghiasi lembar sejarah kehidupan.
Ikhwati Fillâh
Aina nahnu min hunna
Isbirû Inna bada l-laili fajron



ARDIANSYAH




&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21550226-114457241755028447?l=hasanhudaibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanhudaibi.blogspot.com/feeds/114457241755028447/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21550226&amp;postID=114457241755028447&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21550226/posts/default/114457241755028447'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21550226/posts/default/114457241755028447'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanhudaibi.blogspot.com/2006/04/menyulam-kabut.html' title='Menyulam Kabut'/><author><name>hasanhudaibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09684569372641364160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://i37.photobucket.com/albums/e60/hudaibi/Ardiansyah2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21550226.post-113908544318745372</id><published>2006-02-04T22:29:00.000+02:00</published><updated>2006-02-04T22:37:23.196+02:00</updated><title type='text'>The Return Of the King</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/7775/2180/1600/DSC00395.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/7775/2180/400/DSC00395.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;table id="HB_Mail_Container" height="100%" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%" border="0" unselectable="on"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr height="100%" unselectable="on" width="100%"&gt;&lt;td id="HB_Focus_Element" valign="top" width="100%" background="" height="250" unselectable="off"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Belum lama ini saya mengantarkan seorang kakak kelas ke bandara Internasional Mesir; beliau pulang ke tanar air setelah tuntas menyelesaikan pendidikan strata 1-nya di Universitas Al Azhar Cairo. Bang Taufik, begitu sapaan yang biasa saya gunakan. Bujangan asal Dalu-dalu Riau ini meninggalkan banyak kesan. Terlebih karena kita pernah bersama-sama sebelumnya (bahkan pernah satu kamar sewaktu di padepokan:)) beliau kakak tingkat saya sewaktu di Pondok Pesantren Dar El Hikmah Pekanbaru. Kita pernah berada dalam satu kepengurusan di rayon santri (waktu itu rayon Muhajirin; sekarang menjadi perumahan majelis guru) waktu itu kita punya gawean di Qismu l-Amni (bagian keamanan). Banyak cerita lucu dan seru bersamanya, karena selain tegas dan militan, beliau juga dikenal cair dan humoris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu di Cairo, beliau banyak cerita tentang problematika masyarakat Indonesia yang semakin banyak dan rumit. Setiap hari selalu ada permasalahan baru yang menuntut pemecahan. Dari pembicaraannya saya dapat menangkap sebuah sikap empati dan kepedulian terhadap sesama, terlebih sesama muslim. Perlu segera ada usaha yang simultan dalam menciptakan dan mengembangkan sumber daya da'i dalam menjawab tuntutan dan kebutuhan umat. Sudah bukan saatnya kita duduk bertopang kaki menyaksikan kemerosatan dan dekadensi moral masyarakat yang serius tanpa memberikan peran dan kontribusi; begitu kira-kira pesan Bang Taufik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang beliau sudah berada di tanah air, telah kembali ke tempatnya masing-masing, masyarakat tentu telah lama menantikan kedatangannya. Ada setumpuk harapan perubahan digantungkan di pundaknya. Kita berdoa semoga rekan-rekan yang telah kembali ke Indonesia mampu memberikan yang terbaik buat umat. Bukan hanya sebuah paradigma baru tentang perubahan menuju kebaikan tapi juga usaha konkret yang bisa dinikmati secara luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita optimis rekan-rekan ikhwah mampu berperan baik di tengah komunitas heterogen masyarakat melayu. Karena mereka adalah para pahlawan yang kembali membawa cahaya perubahan. Para pengusung panji dakwah yang akan terus mempertahankan kemuliaan dan kehormatan agamanya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;em&gt;(Hudaibi)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr unselectable="on" hb_tag="1"&gt;&lt;td style="FONT-SIZE: 1pt" height="1" unselectable="on"&gt;&lt;div id="hotbar_promo"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;WANITA BAJA

	Helen  adalah isteri salah seorang pemuda Kahfi; Maxmilianous. Sejak gadis kecil ia telah tumbuh cerdas, kuat dan cekatan. Kedudukan ibunya sebagai permaisuri raja Philadelpia; Dixianous telah mengantarkannya kepada kedudukan terhormat, namun itu tidak membuatnya angkuh dan tinggi hati. Ia tetap ramah dan rendah hati. Di samping kekayaan dan kemegahan istana, Helen juga memiliki kepribadian dan paras yang menawan, hingga tak heran kalau banyak panglima istana yang berharap bisa mempersuntingnya, walaupun pada akhirnya Helen dapat dipersunting oleh Maxmilianous. Sejak kecil Helen telah banyak belajar dari ibunya, terutama ketegaran. Tegar, Helen kecil benar-benar melakukannya. Dia menyaksikan sendiri bagaimana ibundanya dibakar hidup-hidup karena bersikeras teguh kepada ajaran agamanya. Kehidupan istana yang penuh kemusyrikan tak membuatnya tunduk dan surut. Keyakinannya tak luntur. Keteguhannya justru membaja di tengah angkara. Bahkan saat dia harus rela kehilangan suami tercinta.

	Sumayyah, syahidah pertama dalam Islam. Lebih memilih disiksa bersama suaminya Yasir ketimbang harus meninggalkan keyakinannya. Bersama para budak kota Mekkah, keluarga Sumayyah diseret oleh Abu Jahal ke ladang pembantaian. Satu persatu mereka disiksa dan dipaksa meninggalkan ajaran Nabi Muhammad SAW. Tak tergambarkan siksaan yang mereka terima waktu itu, hingga Rasulullah sendiri yang kebetulan lewat dan menyaksikan peristiwa tersebut tak mampu melukiskannya. Hanya doa yang sempat Rasulullah sampaikan sebagai penguat keteguhan mereka  Sabarlah wahai keluarga Yasir! Sesungguhnya tempat yang sudah dijanjikan Allah bagi kalian adalah surga .

	Gambaran kehidupan Ummu Mabad juga memberikan keteladanan yang mengagumkan. Betapa kehidupan padang pasir yang sangat jauh dari kecukupan dan kemewahan tak membuatnya goyah dan lemah untuk berbuat baik. Ia tetap sabar dan tekun duduk di serambi tendanya, memberi makan dan minum kepada para musafir yang lewat. Ia tak pernah merasa bosan berbuat baik.

	Begitu pula Khonsa, Shahabiyah yang hidup hingga masa kekhalifahan Umar ini juga mampu tegar membaja walau keempat putranya syahid pada perang Qadisiyyah. Beliau tidak kecewa dan bersedih, apalagi meratapi nasib. Ia justru menyesal, karena hanya bisa menyumbangkan empat putranya. Padahal ia sangat berharap punya banyak anak dan dapat mengantarkan mereka semua ke medan jihad sebagai syuhada. Subhânallâu. Ternyata Islam tidak hanya membentuk Rijâlul Ummah tapi juga melahirkan Niswatun Mujâhidah. Wanita-wanita kokoh dan tegar. Wanita-wanita yang tak lemah dalam himpitan dan tak goyah dalam ujian. Tekanan justru membuat mereka semakin kuat dan tegar. Himpitan justru membuat mereka semakin matang. Nama-nama mereka senantiasa harum, menghiasi lembar sejarah kehidupan.
Ikhwati Fillâh
Aina nahnu min hunna
Isbirû Inna bada l-laili fajron



ARDIANSYAH




&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21550226-113908544318745372?l=hasanhudaibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanhudaibi.blogspot.com/feeds/113908544318745372/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21550226&amp;postID=113908544318745372&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21550226/posts/default/113908544318745372'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21550226/posts/default/113908544318745372'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanhudaibi.blogspot.com/2006/02/return-of-king.html' title='The Return Of the King'/><author><name>hasanhudaibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09684569372641364160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://i37.photobucket.com/albums/e60/hudaibi/Ardiansyah2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21550226.post-113853286020527851</id><published>2006-01-29T12:55:00.000+02:00</published><updated>2006-01-29T13:07:40.216+02:00</updated><title type='text'>Renungan Akhir Tahun</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/7775/2180/1600/019057B.0.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/7775/2180/400/019057B.0.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;table id="HB_Mail_Container" height="100%" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%" border="0" unselectable="on"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr height="100%" unselectable="on" width="100%"&gt;&lt;td id="HB_Focus_Element" valign="top" width="100%" background="" height="250" unselectable="off"&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:130%;"&gt;Tafakkur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan dunia dengan segala rupa hiasannya&lt;br /&gt;Acapkali melenakan&lt;br /&gt;Berdalih kesibukan&lt;br /&gt;Kita lalai menyantuni hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir tak tersisa waktu&lt;br /&gt;Untuk bermesraan dengan Yang Maha Pengasih&lt;br /&gt;Padahal sesungguhnya, di tangan-Nya lah&lt;br /&gt;Kebahagiaan sejati dan kemuliaan hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah insan kekasih-Nya&lt;br /&gt;Yang menghidupkan hati dengan pelita ilmu&lt;br /&gt;Dan nasehat kebenaran&lt;br /&gt;Berhimpun dalam kerendahan hati dan kesungguhan&lt;br /&gt;Melewatkan malam dengan tangisan dosa&lt;br /&gt;Dan harapan pengampunan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku..&lt;br /&gt;Tidak ada yang menjamin kita bisa menikmati kehidupan esok hari&lt;br /&gt;Rahasia itu tersimpan rapi di sisi-Nya&lt;br /&gt;Sungguh merugi orang yang lupa akhir kehidupannya&lt;br /&gt;Saudaraku, yuk berbenah diri&lt;br /&gt;Mempersiapkan diri untuk hari yang sudah pasti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Selamat Tahun Baru Hijriah 1427 H&lt;br /&gt;Taqabbalallâhu minna wa minkum&lt;br /&gt;Kullu 'âmin wa antum bi khairin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;(Akhukum Fillah)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr unselectable="on" hb_tag="1"&gt;&lt;td style="FONT-SIZE: 1pt" height="1" unselectable="on"&gt;&lt;div id="hotbar_promo"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;WANITA BAJA

	Helen  adalah isteri salah seorang pemuda Kahfi; Maxmilianous. Sejak gadis kecil ia telah tumbuh cerdas, kuat dan cekatan. Kedudukan ibunya sebagai permaisuri raja Philadelpia; Dixianous telah mengantarkannya kepada kedudukan terhormat, namun itu tidak membuatnya angkuh dan tinggi hati. Ia tetap ramah dan rendah hati. Di samping kekayaan dan kemegahan istana, Helen juga memiliki kepribadian dan paras yang menawan, hingga tak heran kalau banyak panglima istana yang berharap bisa mempersuntingnya, walaupun pada akhirnya Helen dapat dipersunting oleh Maxmilianous. Sejak kecil Helen telah banyak belajar dari ibunya, terutama ketegaran. Tegar, Helen kecil benar-benar melakukannya. Dia menyaksikan sendiri bagaimana ibundanya dibakar hidup-hidup karena bersikeras teguh kepada ajaran agamanya. Kehidupan istana yang penuh kemusyrikan tak membuatnya tunduk dan surut. Keyakinannya tak luntur. Keteguhannya justru membaja di tengah angkara. Bahkan saat dia harus rela kehilangan suami tercinta.

	Sumayyah, syahidah pertama dalam Islam. Lebih memilih disiksa bersama suaminya Yasir ketimbang harus meninggalkan keyakinannya. Bersama para budak kota Mekkah, keluarga Sumayyah diseret oleh Abu Jahal ke ladang pembantaian. Satu persatu mereka disiksa dan dipaksa meninggalkan ajaran Nabi Muhammad SAW. Tak tergambarkan siksaan yang mereka terima waktu itu, hingga Rasulullah sendiri yang kebetulan lewat dan menyaksikan peristiwa tersebut tak mampu melukiskannya. Hanya doa yang sempat Rasulullah sampaikan sebagai penguat keteguhan mereka  Sabarlah wahai keluarga Yasir! Sesungguhnya tempat yang sudah dijanjikan Allah bagi kalian adalah surga .

	Gambaran kehidupan Ummu Mabad juga memberikan keteladanan yang mengagumkan. Betapa kehidupan padang pasir yang sangat jauh dari kecukupan dan kemewahan tak membuatnya goyah dan lemah untuk berbuat baik. Ia tetap sabar dan tekun duduk di serambi tendanya, memberi makan dan minum kepada para musafir yang lewat. Ia tak pernah merasa bosan berbuat baik.

	Begitu pula Khonsa, Shahabiyah yang hidup hingga masa kekhalifahan Umar ini juga mampu tegar membaja walau keempat putranya syahid pada perang Qadisiyyah. Beliau tidak kecewa dan bersedih, apalagi meratapi nasib. Ia justru menyesal, karena hanya bisa menyumbangkan empat putranya. Padahal ia sangat berharap punya banyak anak dan dapat mengantarkan mereka semua ke medan jihad sebagai syuhada. Subhânallâu. Ternyata Islam tidak hanya membentuk Rijâlul Ummah tapi juga melahirkan Niswatun Mujâhidah. Wanita-wanita kokoh dan tegar. Wanita-wanita yang tak lemah dalam himpitan dan tak goyah dalam ujian. Tekanan justru membuat mereka semakin kuat dan tegar. Himpitan justru membuat mereka semakin matang. Nama-nama mereka senantiasa harum, menghiasi lembar sejarah kehidupan.
Ikhwati Fillâh
Aina nahnu min hunna
Isbirû Inna bada l-laili fajron



ARDIANSYAH




&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21550226-113853286020527851?l=hasanhudaibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanhudaibi.blogspot.com/feeds/113853286020527851/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21550226&amp;postID=113853286020527851&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21550226/posts/default/113853286020527851'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21550226/posts/default/113853286020527851'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanhudaibi.blogspot.com/2006/01/renungan-akhir-tahun_113853286020527851.html' title='Renungan Akhir Tahun'/><author><name>hasanhudaibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09684569372641364160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://i37.photobucket.com/albums/e60/hudaibi/Ardiansyah2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21550226.post-113853040922734426</id><published>2006-01-29T12:19:00.000+02:00</published><updated>2006-01-29T12:26:49.230+02:00</updated><title type='text'>Laksamana Muda</title><content type='html'>&lt;table id="HB_Mail_Container" height="100%" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%" border="0" unselectable="on"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr height="100%" width="100%" unselectable="on"&gt;&lt;td id="HB_Focus_Element" valign="top" width="100%" background="" height="250" unselectable="off"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;          Usai menunaikan ibadah hajinya yang terakhir Rasulullah Saw. segera mengirimkan satu delegasi perang ke luar kota Madinah. Kavaleri perang yang dipimpin oleh Usamah bin Zaid ini langsung bergerak menuju Balqa dan Darum; wilayah Palestina, untuk memberi pelajaran kepada pasukan Romawi, pasukan yang banyak memberikan tekanan dan kedengkian terhadap aktifitas pergerakan Islam waktu itu. Mereka banyak membunuh penduduk dan pembesar negeri yang memeluk Islam, merampas hak dan mengangkangi harga diri masyarakat muslim. Kezaliman dan keangkuhan Romawi inilah yang membuat Rasulullah Saw. memutuskan mengirim satuan pasukan besar untuk memerangi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Delegasi perang ini awalnya sempat menjadi buah bibir masyarakat Madinah waktu itu, mereka kasak kusuk tentang komandan perang yang mereka nilai usianya masih terlalu muda, apalagi untuk memimpin sebuah pasukan besar, padahal di sana ada Abu Bakar As Shiddiq, Umar bin Khattab dan para pembesar sahabat yang lain, sehingga banyak penduduk Madinah yang tidak segera memenuhi panggilan untuk bergabung dalam pasukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Melihat hal yang demikian Rasulullah Saw. dengan tegas mengatakan: “Jika kalian menyangsikan kepemimpinan Usamah, sama saja kalian menyangsikan kepemimpinan bapaknya. Demi Allah, dia benar-benar orang yang layak memegang kepemimpinan, dia dan bapaknya benar-benar orang yang paling aku cintai, untuk itu aku nasehatkan kalian untuk berlaku baik kepada Usamah”.&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;Akhirnya pasukan besar itu pun berangkat, delegasi perang besar yang dipimpin seorang panglima muda yang berusia 18 tahun. Sepeninggal Rasulullah Saw. pengiriman pasukan ini dilanjutkan oleh Abu Bakar dan masih dipegang oleh Usamah bin Zaid, hingga Allah menganugerahkan kemenangan kepada umat Islam.&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;Muhammad Al Fatih Murad, juga diangkat menjadi raja kerajaan Turki Usmani pada usia 16 tahun. Kemampuannya mengatur negara dan penguasaan terhadap tehnik berperang di usia muda membuat orang-orang Eropa terkagum-kagum kepadanya, mereka menyebutnya dengan Assayyid Al Adzîm panglima besar. Kemahirannya dalam mengatur siasat dan strategi perang ia buktikan pada usianya yang ke 23 saat menaklukkan Konstatinopel, pusat terbesar kekuasaan Imperium Romawi sepanjang sejarah peradaban. Walau memakan waktu dan tenaga, perjuangan panjang dan melelahkan itu membuahkan hasil.&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;Ternyata usia muda tidak mesti selalu identik dengan sikap hura-hura dan ketidakteraturan, usia muda justru merupakan masa dimana seseorang mempunyai banyak waktu untuk memupuk dan menggali potensinya. Sikap kritis dan agresif yang kerap mewarnai usaha pencarian jati diri anak-anak muda, sebenarnya bisa menjadi sebuah kekuatan besar yang dapat melahirkan perubahan menuju kebaikan jika bisa dicelupkan dengan nuansa tarbiyah islamiyah, sebagaimana tarbiyah yang dilakukan Rasulullah Saw. terhadap Usamah dan para sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulanya kehidupan mereka tidak jauh berbeda dengan kebanyakan pemuda pada umumnya, namun dengan proses tarbiyah yang terus menerus, Hudatsâ Asshahâbah para sahabat yang berusia muda itu lahir menjadi panglima-panglima cerdas dan tangguh, ksatria-ksatria militan yang selalu tampil memukau di setiap pertempuran, setiap lembar sejarah senantiasa menempatkan mereka pada urutan pertama dalam kemuliaan dan keberanian, pengorbanan yang mereka persembahkan untuk kejayaan Islam hampir tak bisa dilukiskan, semuanya indah dan mengagumkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka orang-orang muda seperti kita, para pemuda yang selalu mendambakan siraman keimanan, kapan dan dimanapun.                       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;(Isyaaq Syahid)&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr hb_tag="1" unselectable="on"&gt;&lt;td style="FONT-SIZE: 1pt" height="1" unselectable="on"&gt;&lt;div id="hotbar_promo"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;WANITA BAJA

	Helen  adalah isteri salah seorang pemuda Kahfi; Maxmilianous. Sejak gadis kecil ia telah tumbuh cerdas, kuat dan cekatan. Kedudukan ibunya sebagai permaisuri raja Philadelpia; Dixianous telah mengantarkannya kepada kedudukan terhormat, namun itu tidak membuatnya angkuh dan tinggi hati. Ia tetap ramah dan rendah hati. Di samping kekayaan dan kemegahan istana, Helen juga memiliki kepribadian dan paras yang menawan, hingga tak heran kalau banyak panglima istana yang berharap bisa mempersuntingnya, walaupun pada akhirnya Helen dapat dipersunting oleh Maxmilianous. Sejak kecil Helen telah banyak belajar dari ibunya, terutama ketegaran. Tegar, Helen kecil benar-benar melakukannya. Dia menyaksikan sendiri bagaimana ibundanya dibakar hidup-hidup karena bersikeras teguh kepada ajaran agamanya. Kehidupan istana yang penuh kemusyrikan tak membuatnya tunduk dan surut. Keyakinannya tak luntur. Keteguhannya justru membaja di tengah angkara. Bahkan saat dia harus rela kehilangan suami tercinta.

	Sumayyah, syahidah pertama dalam Islam. Lebih memilih disiksa bersama suaminya Yasir ketimbang harus meninggalkan keyakinannya. Bersama para budak kota Mekkah, keluarga Sumayyah diseret oleh Abu Jahal ke ladang pembantaian. Satu persatu mereka disiksa dan dipaksa meninggalkan ajaran Nabi Muhammad SAW. Tak tergambarkan siksaan yang mereka terima waktu itu, hingga Rasulullah sendiri yang kebetulan lewat dan menyaksikan peristiwa tersebut tak mampu melukiskannya. Hanya doa yang sempat Rasulullah sampaikan sebagai penguat keteguhan mereka  Sabarlah wahai keluarga Yasir! Sesungguhnya tempat yang sudah dijanjikan Allah bagi kalian adalah surga .

	Gambaran kehidupan Ummu Mabad juga memberikan keteladanan yang mengagumkan. Betapa kehidupan padang pasir yang sangat jauh dari kecukupan dan kemewahan tak membuatnya goyah dan lemah untuk berbuat baik. Ia tetap sabar dan tekun duduk di serambi tendanya, memberi makan dan minum kepada para musafir yang lewat. Ia tak pernah merasa bosan berbuat baik.

	Begitu pula Khonsa, Shahabiyah yang hidup hingga masa kekhalifahan Umar ini juga mampu tegar membaja walau keempat putranya syahid pada perang Qadisiyyah. Beliau tidak kecewa dan bersedih, apalagi meratapi nasib. Ia justru menyesal, karena hanya bisa menyumbangkan empat putranya. Padahal ia sangat berharap punya banyak anak dan dapat mengantarkan mereka semua ke medan jihad sebagai syuhada. Subhânallâu. Ternyata Islam tidak hanya membentuk Rijâlul Ummah tapi juga melahirkan Niswatun Mujâhidah. Wanita-wanita kokoh dan tegar. Wanita-wanita yang tak lemah dalam himpitan dan tak goyah dalam ujian. Tekanan justru membuat mereka semakin kuat dan tegar. Himpitan justru membuat mereka semakin matang. Nama-nama mereka senantiasa harum, menghiasi lembar sejarah kehidupan.
Ikhwati Fillâh
Aina nahnu min hunna
Isbirû Inna bada l-laili fajron



ARDIANSYAH




&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21550226-113853040922734426?l=hasanhudaibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanhudaibi.blogspot.com/feeds/113853040922734426/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21550226&amp;postID=113853040922734426&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21550226/posts/default/113853040922734426'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21550226/posts/default/113853040922734426'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanhudaibi.blogspot.com/2006/01/laksamana-muda_113853040922734426.html' title='Laksamana Muda'/><author><name>hasanhudaibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09684569372641364160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://i37.photobucket.com/albums/e60/hudaibi/Ardiansyah2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21550226.post-113851128683142772</id><published>2006-01-29T07:06:00.000+02:00</published><updated>2006-01-29T07:08:06.833+02:00</updated><title type='text'>Pemuda Air Mata</title><content type='html'>&lt;table id="HB_Mail_Container" height="100%" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%" border="0" unselectable="on"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr height="100%" width="100%" unselectable="on"&gt;&lt;td id="HB_Focus_Element" valign="top" width="100%" background="" height="250" unselectable="off"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dia hadir hampir di setiap segmen kegiatan mahasiswa, tenang dan sangat jarang angkat bicara. Di kalangan teman-teman, dia dikenal supel dan simpatik. Ide-idenya sederhana namun realistis dan penuh pertimbangan. Bijak memilih kata-kata sebelum diucapkan, jujur dan terbuka, tidak heran kalau banyak rekan-rekan yang senang duduk berlama-lama dengannya. Sangat gemar membaca, tak jarang setelah seharian kuliah ia kita temukan asyik menikmati buku-buku kegemarannya. Full aktivitas, kegiatannya hampir tak terputus, kesibukannya hampir tanpa jeda. Kendati demikian, ia tak pernah kehilangan kesempatan shalat berjamaah di mesjid, shaf terdepan dan takbir pertama bersama imam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepadatan agenda kegiatan yang harus diikuti tak membuatnya lupa menyempatkan diri bermesraan dengan mushaf kecil yang selalu ada di saku baju, ringan tangan dan sangat mudah memaafkan orang lain. Meski sering kekurangan, tapi tak kehilangan semangat memberi. Kalau sudah duduk bersamanya, tak ada lagi gundah yang tersisa, hilang bersama genggaman tangan dan tatapan matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melirik kesehariannya, tidak banyak yang berbeda dengan kehidupan mahasiswa pada umumnya, hampir tidak ada yang istimewa. Namun mengapa ia tampak begitu kuat dan bersemangat? Kekuatan apa yang menjadikannya selalu tampil prima dan selalu berusaha menyelesaikan setiap pekerjaan dengan baik? Sekilas ia tampak begitu misterius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang paling membedakannya dari rekan-rekan yang lain adalah bahwa ia sering kedapatan menangis. Ya, ia sering saya temui terisak menangis. Ketika ditanya, jawabannya sederhana: "Akh, kita sering mendengarkan berita kemalangan, kemaren diberitakan bahwa si fulan telah meninggal, hari ini si fulan pun demikian. Besok atau lusa kita juga akan disebut dalam daftar nama-nama itu. Akh, banyaklah menangis dan seringlah mengingat kematian, hal itu akan membantumu bekerja optimal dan sungguh-sungguh, karena tidak ada yang dapat menjamin kehidupanmu akan berlanjut sampai besok".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, airmata tidak selamanya menjadi simbol ketidakberdayaan. Di dalamnya justru terdapat kekuatan, ada daya rubah yang luarbiasa. Dengannya banyak pekerjaan besar bisa diselesaikan secara optimal. Terutama saat-saat bersama Al Quran, di saat sendiri mengingat dosa dan kekhilafan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini sebagaimana yang dilakukan  oleh para pendahulu kita, diantaranya Ali bin Abi Thalib. Ia sering ditemukan terisak menangis sepanjang malam. Bahkan tikar  yang biasa beliau gunakan sebagai alas shalat, pernah disangka Rasulullah Saw. sebagai bekas ompolan putranya Husein, karena basah kuyup dengan airmata. Kendati demikian, airmata ini yang menjadi sumber kekuatan baginya. Buktinya, tak satu peperanganpun yang beliau lewatkan kecuali perang Tabuk, itupun karena permintaan Rasulullah untuk tetap berjaga di Madinah, melindungi orangtua, wanita dan anak-anak. Beliau pula yang mendapatkan kehormatan membawa Panji perang Khaibar, tatkala para pembesar sahabat yang lain berlomba memperebutkannya. Ia juga termasuk kedalam kelompok 10 sahabat yang diberikan jaminan surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakar Shiddiq, Umar bin Khattab, Abu Ubaidah bin Jarrah dan para  sahabat Rasulullah yang lain juga demikian. Sejarah mengenal mereka sebagai &lt;em&gt;Rijâlun Bakkâ&lt;/em&gt;, yaitu   para panglima yang banyak menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka generasi terbaik umat ini. Generasi pilihan yang diabadikan namanya dalam Al Quran. Setiap lembar sejarah senantiasa menempatkan mereka pada urutan pertama dalam kemuliaan dan pengorbanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa kita merindukan orang-orang seperti mereka. Generasi muda, para pejuang yang tak sungkan meneteskan airmata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;(Ardiansyah)&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr unselectable="on" hb_tag="1"&gt;&lt;td style="FONT-SIZE: 1pt" height="1" unselectable="on"&gt;&lt;div id="hotbar_promo"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;WANITA BAJA

	Helen  adalah isteri salah seorang pemuda Kahfi; Maxmilianous. Sejak gadis kecil ia telah tumbuh cerdas, kuat dan cekatan. Kedudukan ibunya sebagai permaisuri raja Philadelpia; Dixianous telah mengantarkannya kepada kedudukan terhormat, namun itu tidak membuatnya angkuh dan tinggi hati. Ia tetap ramah dan rendah hati. Di samping kekayaan dan kemegahan istana, Helen juga memiliki kepribadian dan paras yang menawan, hingga tak heran kalau banyak panglima istana yang berharap bisa mempersuntingnya, walaupun pada akhirnya Helen dapat dipersunting oleh Maxmilianous. Sejak kecil Helen telah banyak belajar dari ibunya, terutama ketegaran. Tegar, Helen kecil benar-benar melakukannya. Dia menyaksikan sendiri bagaimana ibundanya dibakar hidup-hidup karena bersikeras teguh kepada ajaran agamanya. Kehidupan istana yang penuh kemusyrikan tak membuatnya tunduk dan surut. Keyakinannya tak luntur. Keteguhannya justru membaja di tengah angkara. Bahkan saat dia harus rela kehilangan suami tercinta.

	Sumayyah, syahidah pertama dalam Islam. Lebih memilih disiksa bersama suaminya Yasir ketimbang harus meninggalkan keyakinannya. Bersama para budak kota Mekkah, keluarga Sumayyah diseret oleh Abu Jahal ke ladang pembantaian. Satu persatu mereka disiksa dan dipaksa meninggalkan ajaran Nabi Muhammad SAW. Tak tergambarkan siksaan yang mereka terima waktu itu, hingga Rasulullah sendiri yang kebetulan lewat dan menyaksikan peristiwa tersebut tak mampu melukiskannya. Hanya doa yang sempat Rasulullah sampaikan sebagai penguat keteguhan mereka  Sabarlah wahai keluarga Yasir! Sesungguhnya tempat yang sudah dijanjikan Allah bagi kalian adalah surga .

	Gambaran kehidupan Ummu Mabad juga memberikan keteladanan yang mengagumkan. Betapa kehidupan padang pasir yang sangat jauh dari kecukupan dan kemewahan tak membuatnya goyah dan lemah untuk berbuat baik. Ia tetap sabar dan tekun duduk di serambi tendanya, memberi makan dan minum kepada para musafir yang lewat. Ia tak pernah merasa bosan berbuat baik.

	Begitu pula Khonsa, Shahabiyah yang hidup hingga masa kekhalifahan Umar ini juga mampu tegar membaja walau keempat putranya syahid pada perang Qadisiyyah. Beliau tidak kecewa dan bersedih, apalagi meratapi nasib. Ia justru menyesal, karena hanya bisa menyumbangkan empat putranya. Padahal ia sangat berharap punya banyak anak dan dapat mengantarkan mereka semua ke medan jihad sebagai syuhada. Subhânallâu. Ternyata Islam tidak hanya membentuk Rijâlul Ummah tapi juga melahirkan Niswatun Mujâhidah. Wanita-wanita kokoh dan tegar. Wanita-wanita yang tak lemah dalam himpitan dan tak goyah dalam ujian. Tekanan justru membuat mereka semakin kuat dan tegar. Himpitan justru membuat mereka semakin matang. Nama-nama mereka senantiasa harum, menghiasi lembar sejarah kehidupan.
Ikhwati Fillâh
Aina nahnu min hunna
Isbirû Inna bada l-laili fajron



ARDIANSYAH




&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21550226-113851128683142772?l=hasanhudaibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanhudaibi.blogspot.com/feeds/113851128683142772/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21550226&amp;postID=113851128683142772&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21550226/posts/default/113851128683142772'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21550226/posts/default/113851128683142772'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanhudaibi.blogspot.com/2006/01/pemuda-air-mata.html' title='Pemuda Air Mata'/><author><name>hasanhudaibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09684569372641364160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://i37.photobucket.com/albums/e60/hudaibi/Ardiansyah2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21550226.post-113845934672860586</id><published>2006-01-28T16:39:00.000+02:00</published><updated>2006-01-28T16:42:26.730+02:00</updated><title type='text'>Wanita Baja</title><content type='html'>&lt;table id="HB_Mail_Container" height="100%" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%" border="0" unselectable="on"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr height="100%" width="100%" unselectable="on"&gt;&lt;td id="HB_Focus_Element" valign="top" width="100%" background="" height="250" unselectable="off"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Helen – adalah isteri salah seorang pemuda Kahfi; Maxmilianous. Sejak gadis kecil ia telah tumbuh cerdas, kuat dan cekatan. Kedudukan ibunya sebagai permaisuri raja Philadelpia; Dixianous telah mengantarkannya kepada kedudukan terhormat, namun itu tidak membuatnya angkuh dan tinggi hati. Ia tetap ramah dan rendah hati. Di samping kekayaan dan kemegahan istana, Helen juga memiliki kepribadian dan paras yang menawan, hingga tak heran kalau banyak panglima istana yang berharap bisa mempersuntingnya, walaupun pada akhirnya Helen dapat dipersunting oleh Maxmilianous.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kecil Helen telah banyak belajar dari ibunya, terutama ketegaran. Tegar, Helen kecil benar-benar melakukannya. Dia menyaksikan sendiri bagaimana ibundanya dibakar hidup-hidup karena bersikeras teguh kepada ajaran agamanya. Kehidupan istana yang penuh kemusyrikan tak membuatnya tunduk dan surut. Keyakinannya tak luntur. Keteguhannya justru membaja di tengah angkara. Bahkan saat dia harus rela kehilangan suami tercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Sumayyah, syahidah pertama dalam Islam. Lebih memilih disiksa bersama suaminya Yasir ketimbang harus meninggalkan keyakinannya. Bersama para budak kota Mekkah, keluarga Sumayyah diseret oleh Abu Jahal ke ladang pembantaian. Satu persatu mereka disiksa dan dipaksa meninggalkan ajaran Nabi Muhammad SAW. Tak tergambarkan siksaan yang mereka terima waktu itu, hingga Rasulullah sendiri yang kebetulan lewat dan menyaksikan peristiwa tersebut tak mampu melukiskannya. Hanya doa yang sempat Rasulullah sampaikan sebagai penguat keteguhan mereka “ Sabarlah wahai keluarga Yasir! Sesungguhnya tempat yang sudah dijanjikan Allah bagi kalian adalah surga ”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Gambaran kehidupan Ummu Ma’bad juga memberikan keteladanan yang mengagumkan. Betapa kehidupan padang pasir yang sangat jauh dari kecukupan dan kemewahan tak membuatnya goyah dan lemah untuk berbuat baik. Ia tetap sabar dan tekun duduk di serambi tendanya, memberi makan dan minum kepada para musafir yang lewat. Ia tak pernah merasa bosan berbuat baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Begitu pula Khonsa, Shahabiyah yang hidup hingga masa kekhalifahan Umar ini juga mampu tegar membaja walau keempat putranya syahid pada perang Qadisiyyah. Beliau tidak kecewa dan bersedih, apalagi meratapi nasib. Ia justru menyesal, karena hanya bisa menyumbangkan empat putranya. Padahal ia sangat berharap punya banyak anak dan dapat mengantarkan mereka semua ke medan jihad sebagai syuhada. Subhânallâu. Ternyata Islam tidak hanya membentuk &lt;em&gt;Rijâlul Ummah&lt;/em&gt; tapi juga melahirkan &lt;em&gt;Niswatun Mujâhidah&lt;/em&gt;. Wanita-wanita kokoh dan tegar. Wanita-wanita yang tak lemah dalam himpitan dan tak goyah dalam ujian. Tekanan justru membuat mereka semakin kuat dan tegar. Himpitan justru membuat mereka semakin matang. Nama-nama mereka senantiasa harum, menghiasi lembar sejarah kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;Ikhwati Fillâh&lt;br /&gt;Aina nahnu min hunna&lt;br /&gt;Isbiru Inna ba’da l-laili fajron&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Abu Khonsa)&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr hb_tag="1" unselectable="on"&gt;&lt;td style="FONT-SIZE: 1pt" height="1" unselectable="on"&gt;&lt;div id="hotbar_promo"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;WANITA BAJA

	Helen  adalah isteri salah seorang pemuda Kahfi; Maxmilianous. Sejak gadis kecil ia telah tumbuh cerdas, kuat dan cekatan. Kedudukan ibunya sebagai permaisuri raja Philadelpia; Dixianous telah mengantarkannya kepada kedudukan terhormat, namun itu tidak membuatnya angkuh dan tinggi hati. Ia tetap ramah dan rendah hati. Di samping kekayaan dan kemegahan istana, Helen juga memiliki kepribadian dan paras yang menawan, hingga tak heran kalau banyak panglima istana yang berharap bisa mempersuntingnya, walaupun pada akhirnya Helen dapat dipersunting oleh Maxmilianous. Sejak kecil Helen telah banyak belajar dari ibunya, terutama ketegaran. Tegar, Helen kecil benar-benar melakukannya. Dia menyaksikan sendiri bagaimana ibundanya dibakar hidup-hidup karena bersikeras teguh kepada ajaran agamanya. Kehidupan istana yang penuh kemusyrikan tak membuatnya tunduk dan surut. Keyakinannya tak luntur. Keteguhannya justru membaja di tengah angkara. Bahkan saat dia harus rela kehilangan suami tercinta.

	Sumayyah, syahidah pertama dalam Islam. Lebih memilih disiksa bersama suaminya Yasir ketimbang harus meninggalkan keyakinannya. Bersama para budak kota Mekkah, keluarga Sumayyah diseret oleh Abu Jahal ke ladang pembantaian. Satu persatu mereka disiksa dan dipaksa meninggalkan ajaran Nabi Muhammad SAW. Tak tergambarkan siksaan yang mereka terima waktu itu, hingga Rasulullah sendiri yang kebetulan lewat dan menyaksikan peristiwa tersebut tak mampu melukiskannya. Hanya doa yang sempat Rasulullah sampaikan sebagai penguat keteguhan mereka  Sabarlah wahai keluarga Yasir! Sesungguhnya tempat yang sudah dijanjikan Allah bagi kalian adalah surga .

	Gambaran kehidupan Ummu Mabad juga memberikan keteladanan yang mengagumkan. Betapa kehidupan padang pasir yang sangat jauh dari kecukupan dan kemewahan tak membuatnya goyah dan lemah untuk berbuat baik. Ia tetap sabar dan tekun duduk di serambi tendanya, memberi makan dan minum kepada para musafir yang lewat. Ia tak pernah merasa bosan berbuat baik.

	Begitu pula Khonsa, Shahabiyah yang hidup hingga masa kekhalifahan Umar ini juga mampu tegar membaja walau keempat putranya syahid pada perang Qadisiyyah. Beliau tidak kecewa dan bersedih, apalagi meratapi nasib. Ia justru menyesal, karena hanya bisa menyumbangkan empat putranya. Padahal ia sangat berharap punya banyak anak dan dapat mengantarkan mereka semua ke medan jihad sebagai syuhada. Subhânallâu. Ternyata Islam tidak hanya membentuk Rijâlul Ummah tapi juga melahirkan Niswatun Mujâhidah. Wanita-wanita kokoh dan tegar. Wanita-wanita yang tak lemah dalam himpitan dan tak goyah dalam ujian. Tekanan justru membuat mereka semakin kuat dan tegar. Himpitan justru membuat mereka semakin matang. Nama-nama mereka senantiasa harum, menghiasi lembar sejarah kehidupan.
Ikhwati Fillâh
Aina nahnu min hunna
Isbirû Inna bada l-laili fajron



ARDIANSYAH




&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21550226-113845934672860586?l=hasanhudaibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanhudaibi.blogspot.com/feeds/113845934672860586/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21550226&amp;postID=113845934672860586&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21550226/posts/default/113845934672860586'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21550226/posts/default/113845934672860586'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanhudaibi.blogspot.com/2006/01/wanita-baja_113845934672860586.html' title='Wanita Baja'/><author><name>hasanhudaibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09684569372641364160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://i37.photobucket.com/albums/e60/hudaibi/Ardiansyah2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21550226.post-113840322056879736</id><published>2006-01-28T01:04:00.000+02:00</published><updated>2006-01-28T01:07:00.570+02:00</updated><title type='text'>Manusia-manusia Baru</title><content type='html'>&lt;table id="HB_Mail_Container" height="100%" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%" border="0" unselectable="on"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr height="100%" width="100%" unselectable="on"&gt;&lt;td id="HB_Focus_Element" valign="top" width="100%" background="" height="250" unselectable="off"&gt;&lt;div align="justify"&gt;          "Aku ingin hijrah, ukhayya. Aku ingin keluar dari duniaku, tidak tahan rasanya berada dalam kegelapan ini. Aku ingin ketenangan" Begitu katanya; seorang kenalan sejak di tanah air. Ungkapan ini disampaikan beberapa tahun setelah keputusannya meninggalkan dunia hingar bingar dalam lantunan musik. Ia seorang pianoris salah satu kelompok musik ternama di tanah air. Terharu sekali mendengar kemantapannya untuk berubah.&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;Layaknya orang yang telah ganti profesi, tentu kegiatan dan rutinitas keseharian banyak yang mengalami perubahan. Laki-laki ini juga demikian. Di samping pengajian rutin dan kajian keislaman, ia kerap kali hadir mewarnai kegiatan sosial di beberapa tempat. Mulai dari aksi solidaritas untuk muslim Palestina hingga perancangan proyek bantuan untuk masyarakat kurang mampu. Ia bahkan telah beberapa kali, mengelola kegiatan pengumpulan pakaian bekas layak pakai untuk remaja muslim di pedalaman Sumatera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ia benar-benar berubah. Kenangan gelap masa lalu tak membuatnya berhenti memperbaiki diri. Hal ini juga dibuktikan dengan keseriusannya menempa diri terus menerus dengan kegiatan kerohanian. Harapannya yang menyentuh hati adalah keinginannya menjadikan potensi musikus yang ia miliki untuk menyebarkan cahaya dan keindahan agama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidayah. Tak banyak orang yang mendapatkannya, dan juga tidak sedikit yang melalaikannya. Padahal ia perlu dirawat dan dijaga, agar tetap kuat dan bercahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kisah keislaman Salman Al-Farisi. Sebelum menjadi muslim, ia juga sempat berbuat khilaf dan keliru. Namun keinginannya untuk menjadi lebih baik, terus mendorongnya berkelana mencari kebenaran. Hidayah Islam yang telah lama ia nantikan, kemudian singgah dan menetap di hatinya. Dan itu mampu ia pertahankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komitmennya untuk memenangkan perjuangan Rasulullah Saw. dalam mengemban risalah dakwah benar-benar ia buktikan pada perang Khandaq. Ide pembuatan parit di pinggiran kota Madinah, yang dikemukakan Salman mampu menggiring kaum muslimin mencapai kemenangan setelah menundukkan barisan sekutu kaum musyrikin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cat Steven juga demikian. Sebelum keputusannya masuk Islam, ia seorang Kristiani. Karirnya di blantika musik dunia luar biasa. Album unggulannya 'Tea For Tillerman' menuai sukses besar di pasaran. Tapi ia tak mendapatkan kepuasan. Sampai suatu hari ia dikejutkan oleh terjemahan Al-Quran surat Asy-Syu'ara yang diberikan kakaknya David Gordon. Nuraninya terketuk, Cat Steven kemudian masuk Islam dan mengganti nama menjadi Yusuf Islam. Penyanyi tenar yang bernama lengkap Stephen Demetre Georgian ini kemudian berjuang membenahi diri. Potensi musikal yang dimiliki, kini benar-benar sarat nuansa keimanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekan-rekan muda, waktu kita tidak panjang. Tak ada yang bisa menjamin kehidupan ini bisa berlanjut lebih lama. Jangan tunggu besok untuk berbenah. Segeralah mulai hari ini. Walau dari perkara-perkara kecil. Umat ini menanti kekuatan. Manusia-manusia baru untuk melanjutkan perjuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Ardiansyah)&lt;br /&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr hb_tag="1" unselectable="on"&gt;&lt;td style="FONT-SIZE: 1pt" height="1" unselectable="on"&gt;&lt;div id="hotbar_promo"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;WANITA BAJA

	Helen  adalah isteri salah seorang pemuda Kahfi; Maxmilianous. Sejak gadis kecil ia telah tumbuh cerdas, kuat dan cekatan. Kedudukan ibunya sebagai permaisuri raja Philadelpia; Dixianous telah mengantarkannya kepada kedudukan terhormat, namun itu tidak membuatnya angkuh dan tinggi hati. Ia tetap ramah dan rendah hati. Di samping kekayaan dan kemegahan istana, Helen juga memiliki kepribadian dan paras yang menawan, hingga tak heran kalau banyak panglima istana yang berharap bisa mempersuntingnya, walaupun pada akhirnya Helen dapat dipersunting oleh Maxmilianous. Sejak kecil Helen telah banyak belajar dari ibunya, terutama ketegaran. Tegar, Helen kecil benar-benar melakukannya. Dia menyaksikan sendiri bagaimana ibundanya dibakar hidup-hidup karena bersikeras teguh kepada ajaran agamanya. Kehidupan istana yang penuh kemusyrikan tak membuatnya tunduk dan surut. Keyakinannya tak luntur. Keteguhannya justru membaja di tengah angkara. Bahkan saat dia harus rela kehilangan suami tercinta.

	Sumayyah, syahidah pertama dalam Islam. Lebih memilih disiksa bersama suaminya Yasir ketimbang harus meninggalkan keyakinannya. Bersama para budak kota Mekkah, keluarga Sumayyah diseret oleh Abu Jahal ke ladang pembantaian. Satu persatu mereka disiksa dan dipaksa meninggalkan ajaran Nabi Muhammad SAW. Tak tergambarkan siksaan yang mereka terima waktu itu, hingga Rasulullah sendiri yang kebetulan lewat dan menyaksikan peristiwa tersebut tak mampu melukiskannya. Hanya doa yang sempat Rasulullah sampaikan sebagai penguat keteguhan mereka  Sabarlah wahai keluarga Yasir! Sesungguhnya tempat yang sudah dijanjikan Allah bagi kalian adalah surga .

	Gambaran kehidupan Ummu Mabad juga memberikan keteladanan yang mengagumkan. Betapa kehidupan padang pasir yang sangat jauh dari kecukupan dan kemewahan tak membuatnya goyah dan lemah untuk berbuat baik. Ia tetap sabar dan tekun duduk di serambi tendanya, memberi makan dan minum kepada para musafir yang lewat. Ia tak pernah merasa bosan berbuat baik.

	Begitu pula Khonsa, Shahabiyah yang hidup hingga masa kekhalifahan Umar ini juga mampu tegar membaja walau keempat putranya syahid pada perang Qadisiyyah. Beliau tidak kecewa dan bersedih, apalagi meratapi nasib. Ia justru menyesal, karena hanya bisa menyumbangkan empat putranya. Padahal ia sangat berharap punya banyak anak dan dapat mengantarkan mereka semua ke medan jihad sebagai syuhada. Subhânallâu. Ternyata Islam tidak hanya membentuk Rijâlul Ummah tapi juga melahirkan Niswatun Mujâhidah. Wanita-wanita kokoh dan tegar. Wanita-wanita yang tak lemah dalam himpitan dan tak goyah dalam ujian. Tekanan justru membuat mereka semakin kuat dan tegar. Himpitan justru membuat mereka semakin matang. Nama-nama mereka senantiasa harum, menghiasi lembar sejarah kehidupan.
Ikhwati Fillâh
Aina nahnu min hunna
Isbirû Inna bada l-laili fajron



ARDIANSYAH




&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21550226-113840322056879736?l=hasanhudaibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanhudaibi.blogspot.com/feeds/113840322056879736/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21550226&amp;postID=113840322056879736&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21550226/posts/default/113840322056879736'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21550226/posts/default/113840322056879736'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanhudaibi.blogspot.com/2006/01/manusia-manusia-baru.html' title='Manusia-manusia Baru'/><author><name>hasanhudaibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09684569372641364160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://i37.photobucket.com/albums/e60/hudaibi/Ardiansyah2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21550226.post-113839203340662420</id><published>2006-01-27T21:57:00.000+02:00</published><updated>2006-01-27T22:00:33.410+02:00</updated><title type='text'>Tetaplah Menjadi Pemenang</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Saat tersebar berita terbunuhnya Rasulullah Saw. pada perang Uhud, barisan kaum muslimin sempat goyah. Banyak diantaranya yang hilang kendali. Bayangan kekalahan mulai merayapi hati para sahabat. Tak ada yang dipikirkan kecuali keselamatan diri, hingga ada beberapa orang yang melarikan diri ke atas gunung atau kembali ke Madinah. Pada saat kritis inilah tampak pesona dan keindahan iman para sahabat Rasulullah Saw. &lt;em&gt;al atqiyaa&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;Sebagaimana diriwayatkan bahwa ketika Anas bin Nadhir melewati barisan kaum muslimin yang telah meletakkan senjata. Ia bertanya kepada mereka: "apa yang kalian tunggu?! Mereka menjawab: "Rasulullah telah terbunuh!! "Apa yang kalian perbuat dengan kehidupan sepeninggalnya? Bangkit dan matilah seperti Rasulullah! Kata Anas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia berpapasan dengan Sa'ad bin Mu'adz yang bertanya padanya, "Mau kemana wahai Abu Umar? Anas menjawab: "&lt;em&gt;Wah..&lt;/em&gt; di sana ada aroma surga wahai Sa'ad, aku bisa menciumnya dari arah Uhud". Setelah itu beranjak dan menyerbu pasukan musyirikin hingga menjemput syahidnya. Usai peperangan, tak seorangpun yang mengenali jasadnya, kecuali saudarinya yang bisa mengenalinya melalui tanda di jempol kakinya. Di tubuhnya terdapat lebih dari delapan puluh tusukan pedang dan tombak. Memilukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula Sa'ad bin Rabi', ia ditemukan Zaid bin Tsabit diantara para korban perang Uhud dalam keadaan yang sangat menyedihkan, dengan sebuah tombak yang masih menancap di tubuhnya, ada tidak kurang dari tujuh puluh luka sabetan pedang, hujaman anak panah dan tikaman tombak. Sewaktu dihampiri, dengan penuh semangat ia katakan pada Zaid: "Sampaikan pada Rasulullah, sesungguhnya aku telah mencium bau surga, dankatakan pada kaumku Anshar, sungguh tidak ada alas an bagi mereka di sisi Allah nanti, jika sampai terjadi sesuatu pada Rasulullah, sementara ada mata yang menyaksikannya",  setelah itu ia menghembuskan napas terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luar biasa, di tengah kondisi kritis sekalipun, para sahabat tetap memiliki semangat yang besar. Semangat untuk tetap berjuang dan berkorban. Memberikan semua yang dimiliki. Peluh dan darah, tak ada yang tersisa. Semuanya untuk Allah dan Rasul-Nya. Semuanya hanya dengan keyakinan; &lt;em&gt;Ihdaa l-Husnayain&lt;/em&gt;. Hidup mulia dengan kemenangan atau gugur sebagai syuhada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa serupa juga terjadi di barisan kaum muslimahnya. Diceritakan bahwa seusai mengubur para syuhada perang Uhud, Rasulullah Saw. bersama para sahabat kembali ke Madinah. Di tengah perjalanan beliau bertemu dengan &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;beberapa&lt;/span&gt; orang wanita Madinah yang dating menyongsong kedatangannya. Diantaranya; Hamnah binti Jahsyi. Tiga berita kematian kerabatnya tak membuatnya patah semangat. Ia tetap tegar. Kematian saudaranya Abdullah bin Jahsyi, kematian pamannya Hamzah bin Abdul muthalib, dan suaminya Mush'ab bin Umair. Mengagumkan. Kendati ia sempat histeris takkala diberitakan bahwa suaminya juga terbunuh, karena bagaimanapun seperti kata Rasulullah Saw. bahwa Mush'ab memiliki tempat sendiri di hatinya. Namun itu tidak berlangsung lama, hanya sebentar. Setelah hari itu, seluruh kehidupannya penuh perjuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan, setiap peristiwa yang menimpa seorang muslim, bukanlah akhir dari kehidupannya. Musibah dan kenikmatan adalah ujian, semuanya mesti dihadapi. Ketegaran menyikapi kesempitan hidup, kesabaran dan keteguhan menghadapi ujian merupakan satu diantara dua kemenangan, untuk itu tetaplah menjadi pemenang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Ardiansyah)&lt;br /&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;WANITA BAJA

	Helen  adalah isteri salah seorang pemuda Kahfi; Maxmilianous. Sejak gadis kecil ia telah tumbuh cerdas, kuat dan cekatan. Kedudukan ibunya sebagai permaisuri raja Philadelpia; Dixianous telah mengantarkannya kepada kedudukan terhormat, namun itu tidak membuatnya angkuh dan tinggi hati. Ia tetap ramah dan rendah hati. Di samping kekayaan dan kemegahan istana, Helen juga memiliki kepribadian dan paras yang menawan, hingga tak heran kalau banyak panglima istana yang berharap bisa mempersuntingnya, walaupun pada akhirnya Helen dapat dipersunting oleh Maxmilianous. Sejak kecil Helen telah banyak belajar dari ibunya, terutama ketegaran. Tegar, Helen kecil benar-benar melakukannya. Dia menyaksikan sendiri bagaimana ibundanya dibakar hidup-hidup karena bersikeras teguh kepada ajaran agamanya. Kehidupan istana yang penuh kemusyrikan tak membuatnya tunduk dan surut. Keyakinannya tak luntur. Keteguhannya justru membaja di tengah angkara. Bahkan saat dia harus rela kehilangan suami tercinta.

	Sumayyah, syahidah pertama dalam Islam. Lebih memilih disiksa bersama suaminya Yasir ketimbang harus meninggalkan keyakinannya. Bersama para budak kota Mekkah, keluarga Sumayyah diseret oleh Abu Jahal ke ladang pembantaian. Satu persatu mereka disiksa dan dipaksa meninggalkan ajaran Nabi Muhammad SAW. Tak tergambarkan siksaan yang mereka terima waktu itu, hingga Rasulullah sendiri yang kebetulan lewat dan menyaksikan peristiwa tersebut tak mampu melukiskannya. Hanya doa yang sempat Rasulullah sampaikan sebagai penguat keteguhan mereka  Sabarlah wahai keluarga Yasir! Sesungguhnya tempat yang sudah dijanjikan Allah bagi kalian adalah surga .

	Gambaran kehidupan Ummu Mabad juga memberikan keteladanan yang mengagumkan. Betapa kehidupan padang pasir yang sangat jauh dari kecukupan dan kemewahan tak membuatnya goyah dan lemah untuk berbuat baik. Ia tetap sabar dan tekun duduk di serambi tendanya, memberi makan dan minum kepada para musafir yang lewat. Ia tak pernah merasa bosan berbuat baik.

	Begitu pula Khonsa, Shahabiyah yang hidup hingga masa kekhalifahan Umar ini juga mampu tegar membaja walau keempat putranya syahid pada perang Qadisiyyah. Beliau tidak kecewa dan bersedih, apalagi meratapi nasib. Ia justru menyesal, karena hanya bisa menyumbangkan empat putranya. Padahal ia sangat berharap punya banyak anak dan dapat mengantarkan mereka semua ke medan jihad sebagai syuhada. Subhânallâu. Ternyata Islam tidak hanya membentuk Rijâlul Ummah tapi juga melahirkan Niswatun Mujâhidah. Wanita-wanita kokoh dan tegar. Wanita-wanita yang tak lemah dalam himpitan dan tak goyah dalam ujian. Tekanan justru membuat mereka semakin kuat dan tegar. Himpitan justru membuat mereka semakin matang. Nama-nama mereka senantiasa harum, menghiasi lembar sejarah kehidupan.
Ikhwati Fillâh
Aina nahnu min hunna
Isbirû Inna bada l-laili fajron



ARDIANSYAH




&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21550226-113839203340662420?l=hasanhudaibi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanhudaibi.blogspot.com/feeds/113839203340662420/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21550226&amp;postID=113839203340662420&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21550226/posts/default/113839203340662420'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21550226/posts/default/113839203340662420'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanhudaibi.blogspot.com/2006/01/tetaplah-menjadi-pemenang.html' title='Tetaplah Menjadi Pemenang'/><author><name>hasanhudaibi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09684569372641364160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://i37.photobucket.com/albums/e60/hudaibi/Ardiansyah2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
